Rapat Koordinasi & Evaluasi di Madrasah Tunaswira Sofwatus Silmi Bersama Pembina Yayasan Bapak Yoyok HW

rapat koordinasi dan evaluasi di madrasah Tunaswira Sofwatus Silmi

Podcast: Elevating Islamic Character and Leadership in Education

Alhamdulillah, rapat pada Sabtu, 19 Juli 2025 di Madrasah Tunaswira Sofwatus Silmi menjadi momen penting buat kita semua. Dihadiri oleh seluruh guru dan staf pendidik, serta dipimpin langsung oleh Pembina Yayasan, Bapak Yoyok HW, pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin, tapi menjadi langkah strategis untuk memperkuat komitmen kita sebagai bagian dari Tunaswira, sebuah institusi bisnis Islami yang terus bergerak maju.Dari setiap pembahasan, terasa jelas semangat kita untuk tumbuh bersama: jadi lebih kuat, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat, baik untuk tim maupun untuk umat. Terima kasih atas kontribusi dan semangatnya. Semua ini adalah bagian dari perjalanan kita menuju Tunaswira yang lebih besar, lebih berdampak, dan insyaAllah makin berjaya.

Sesi 1

Data Santri dan Struktur Kelas

Total santri Tunaswira SS saat ini adalah 30 orang. Angkatan pertama terdiri dari 18 santri. Rincian kelas saat ini adalah sebagai berikut:

  • Kelas 1: 12 santri.
  • Kelas 2: 8 santri.
  • Kelas Gabungan: 10 santri. Kelas gabungan ini terdiri dari santri kelas 3 (4 santri), kelas 4 (3 santri), dan kelas 5 (3 santri).

Bersyukur sebagai Ibadah Wajib yang Belum Tuntas

Bersyukur adalah ibadah wajib yang seringkali tidak diselesaikan secara tuntas karena belum ada petunjuk teknis (juknis) yang jelas, berbeda dengan ibadah lain seperti salat, puasa, atau zakat. Akibatnya, banyak yang menganggapnya tidak wajib dan jarang mencarinya. Ibadah didefinisikan sebagai semua aktivitas yang dicintai Allah, dan sesuatu yang diwajibkan Allah pasti dicintai-Nya. Kegagalan dalam menjalankan perintah Allah, baik dalam ibadah antar sesama manusia (85%) maupun ibadah vertikal (mahdah), bukan karena ketidaksadaran tetapi karena kurangnya keseriusan. Contohnya, olahraga dapat dianggap wajib karena nikmat sehat berasal dari Allah, dan merawatnya adalah bagian dari bersyukur.

Hambatan Ibadah dan Perangkap Sekularisme

Penting untuk terus berdiskusi agar umat Muslim menjadi utuh dan tidak terjebak pada sekularisme. Seringkali, ibadah yang sering dibahas sejak kecil (seperti salat, puasa) ditekuni, namun amalan yang berdampak lebih besar bagi umat justru diabaikan. Muslim yang kuat secara fisik dapat dianggap ancaman oleh musuh Islam, sehingga aspek ini sering “dikaburkan”. Tanpa disadari, kita sering hidup dalam atmosfer kapitalis, bukan Islam.

Perbedaan Mindset: Kapitalis vs. Muslim dalam Ikhtiar

Atmosfer kapitalis sangat berorientasi pada hasil akhir dan kuantitas. Padahal, wilayah manusia adalah ikhtiar (usaha), sementara hasil adalah milik Allah. Menargetkan angka (misalnya rupiah, jumlah siswa, omset) secara tidak sadar mencerminkan mindset kapitalis yang bisa mengakibatkan menghalalkan segala cara untuk mencapai angka tersebut. Dalam mindset Muslim, angka (seperti omset atau laba) adalah bagian dari perencanaan ikhtiar yang baik untuk membantu menyempurnakan usaha, bukan keharusan mutlak yang ditentukan manusia.

Perencanaan dan Penetapan Goals dalam Rapat

Salah satu tugas penting rapat adalah perencanaan. Frekuensi rapat menentukan durasi perencanaan. Perencanaan memiliki dua jenis utama:

  1. Rencana tujuan/sukses/hasil (goals): Ini harus ditetapkan terlebih dahulu sebagai alat ukur keberhasilan ikhtiar. Tanpa tujuan yang jelas, sulit mengukur usaha dan motivasi bisa menurun.
  2. Rencana proses ikhtiar: Ini dibuat setelah tujuan ditetapkan, mencakup pembagian tugas, kapan, dan bagaimana strategi dilakukan. Contohnya, penjualan kerupuk meningkat setelah ditetapkan tujuan yang jelas, memicu pemeriksaan kuantitas dan kualitas ikhtiar. Merenencanakan tujuan seringkali sulit dan dihindari, namun menghindari kesulitan akan membuatnya tetap sulit. Apapun harus memiliki goals sebagai bagian dari kesempurnaan ikhtiar.

Menghadapi Kesulitan dan Tantangan untuk Peningkatan Level

Kesulitan dan beratnya tantangan adalah ujian; menghindarinya berarti menghindari kenaikan level. Jika kita tidak pernah menaklukkan tantangan sulit, kita tidak akan pernah naik level. Rasulullah SAW adalah contoh pemimpin yang sukses dengan terus menciptakan tantangan baru dalam dakwahnya. Kepemimpinan beliau didasarkan pada sebab-akibat yang logis dan ikhtiar teknis yang sangat banyak, seperti membangun kecintaan dan selalu mendoakan kebaikan.

Tunaswira SS: Institusi Bisnis dengan Misi Kesejahteraan dan Dakwah

Tunaswira SS adalah institusi bisnis, bukan hanya institusi pendidikan. Sekolah adalah inti bisnis (core business) dari Tunaswira SS. Sebagai institusi bisnis, Tunaswira SS bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan personilnya. Bekerja di Tunaswira SS adalah mencari rezeki, yang merupakan ibadah wajib, terutama bagi para suami, dan rezeki halal adalah keharusan. Mencari rezeki sambil berdakwah akan mendapatkan pahala berlipat. Institusi bisnis dengan nilai-nilai Islam tidak akan kehilangan keislamannya dan justru memungkinkan lebih banyak peluang untuk bersedekah.

Mekanisme Koordinasi dan Peran Rapat Yayasan

Seorang manajer sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar kepala sekolah, termasuk menyejahterakan anggotanya. Mekanisme koordinasi harus membedakan antara rapat sekolah (yang dominan) dan rapat Yayasan Tunaswira SS (yang lebih luas tentang bisnis institusi). Rapat yayasan akan memperluas wawasan dan membuka “pintu-pintu rezeki” lain, tidak hanya dari sekolah. Rapat yayasan diharapkan dimulai pada semester 2 tahun 2025, dipimpin oleh Ketua Yayasan (Pak Candra) atau didelegasikan kepada manajer Tunaswira SS.

Pengembangan Siswa sebagai Pemimpin Berkarakter Islam

Tujuan Tunaswira SS adalah membentuk siswa menjadi pemimpin berkarakter Islam, yang levelnya di atas individu sholeh/sholehah atau berkarakter biasa. Kriteria individu Muslim berkarakter Islam mencakup empat aspek yang kuat: fisik, spiritualitas (jiwa), keterampilan (skill), dan akhlak. Seorang pemimpin membutuhkan standar yang lebih tinggi dalam aspek-aspek ini, seperti fisik yang lebih kuat, keterampilan kepemimpinan dan manajerial (kreativitas, inisiatif, empati, keberanian), serta spiritualitas/mentalitas yang berani mengambil risiko dan tidak mudah menyerah. Pengembangan kepemimpinan ini harus direncanakan dan dilakukan setiap hari, tidak hanya periodik. Hasilnya harus terlihat dalam keseharian siswa (di sekolah, rumah, dan pergaulan).

Pengembangan Leadership Tim dan Internalisi Nilai Melalui Repetisi

Selain siswa, seluruh personil Tunaswira SS (guru, staf, manajemen) juga harus mengembangkan leadership dan manajerial diri mereka. Pengembangan ini tidak hanya melalui sistem, tetapi juga melalui keteladanan (unconscious emulation) yang lebih efektif daripada berpura-pura. Angkatan pertama Tunaswira SS harus mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan seiring pertumbuhan institusi. Salah satu tekniknya adalah memberi tugas presentasi laporan dalam rapat. Strategi internalisasi nilai juga mencakup repetisi simbol-simbol Tunaswira SS (seperti takbir atau selawatnya), yang tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai Islam tertinggi.

Pentingnya Akuntansi dan Keuangan Terpisah

Tunaswira SS yang memasuki tahun kedua harus mulai menjalankan aktivitas akuntansi dan keuangan secara terpisah. Akuntansi menghasilkan laporan rugi-laba dan neraca, sedangkan keuangan menghasilkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), proyeksi arus kas, dan sistem pencairan. Perlu ada pembahasan khusus mengenai depresiasi aset dan strategi saving.

Optimalisasi Komunikasi dan Pemasaran Digital

Tim multimedia dan media sosial harus dikembangkan, dengan target peningkatan komunikasi media sosial (misalnya, angka interaksi). Konten yang bagus harus dioptimalkan dan dideliver secara efektif ke masyarakat untuk promosi, publisitas, dan penjualan.

Promosi Keunggulan SDM (Guru dan Tim)

Penting untuk mempamerkan aspek SDM (guru dan tim) Tunaswira SS kepada masyarakat melalui media sosial dan produk multimedia. Ini akan membangun citra positif dan meyakinkan orang tua untuk menitipkan anak mereka. Tampilkan aktivitas yang menunjukkan keunggulan kompetitif, semangat, dan kekompakan tim secara informatif, tidak provokatif atau terkesan sombong.

Peran Ekstrakurikuler dalam Pembentukan Karakter Siswa

Ekstrakurikuler harus dirancang untuk memberikan “nutrisi” tambahan untuk hal-hal yang tidak dapat diberikan di kelas, seperti kesabaran, keberanian, dan ketangguhan. Tidak seperti ekstrakurikuler modern yang seringkali hanya menambah pelajaran di luar jam sekolah, ekstrakurikuler di Tunaswira SS harus fokus pada penggarapan fisik dan karakter agar siswa tidak hanya pintar tetapi juga tangguh (“tidak seperti agar-agar”). Pilihan ekstrakurikuler harus disediakan, seperti panahan, sepak bola, atau pencak silat.

Pengembangan Kemampuan Dakwah Siswa

Kemampuan berdakwah siswa perlu dibangun, diawali dengan pembangunan leadership karena seorang pendakwah sejati adalah pemimpin . Materi dakwah harus disesuaikan: siswa berdakwah untuk jemaah seusia mereka, bukan untuk orang dewasa, agar lebih efektif dari segi gaya, konten, dan cara penyampaian .

Sesi 2

Promosi dan Pencitraan Merek

  • Tunaswira SS berupaya mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar karena saat ini sebagian besar santri berasal dari luar area.
  • Salah satu usulan promosi adalah melalui “promosi meja”. Model ini terinspirasi dari promosi sekolah Sahabat Gu pada tahun 2015 atau 2016 yang menempatkan brosur permanen berisi profil dan informasi di meja-meja warung, seperti di warung stik.
  • Tunaswira SS mengusulkan untuk melaksanakan promosi meja ini, minimal di 18 cabang warung SS di area Jogja. Tujuannya agar orang-orang yang menunggu hidangan di SS dapat melihat dan mengenal Tunaswira SS, sehingga pencitraan merek (brand imaging) Tunaswira SS dapat melekat erat dengan SS.
  • Untuk mengangkat pencitraan merek, Tunaswira SS harus melekatkan diri pada entitas yang sudah lebih kuat, yaitu SS. Hal ini diwujudkan dengan menambahkan logo SS pada seragam Tunaswira SS.
  • Warung SS dapat dimanfaatkan untuk segala keperluan promosi dan publisitas Tunaswira SS, karena Tunaswira SS adalah bagian dari warung SS.
    • Koordinasi harus dilakukan melalui NADES.
    • Contoh pemanfaatan: membuka meja promosi secara bergilir di warung SS tertentu (mingguan/bulanan/menjelang acara).
    • Dapat membuat meja yang bagus dan terstandarisasi dengan branding Tunaswira SS yang mudah dibawa.
    • Bahkan menitipkan materi promosi juga memungkinkan.
    • Namun, menempel poster publikasi kegiatan umum di warung SS tidak bisa dilakukan.

Ustadz Ichsan


Keterlibatan dalam Acara SS

  • Tunaswira SS akan dilibatkan dalam acara ulang tahun SS pada tanggal 20.
  • Lomba Baris Berbaris (PBB):
    • Tunaswira SS dan Tras SS akan berpartisipasi sebagai eksebisi (wajib tampil namun tidak dinilai), tetapi mereka bisa ikut dinilai jika berani.
    • Lawan dalam lomba ini adalah sesama manajemen SS.
    • Komandan regu wajib berpangkat tertinggi mulai tahun ini, misalnya manajer area untuk eksternal.
    • Di Jogja akan ada tujuh regu, jadi Tras SS akan menjadi regu ke-delapan dan Tunaswira SS akan menjadi regu ke-sembilan.
  • Lomba Tumpeng: Tunaswira SS dan Tras SS akan ikut dinilai dalam lomba tumpeng pada tanggal 20 pagi. Totalnya ada 13 tumpeng yang akan dilombakan di Jogja.
  • Ada potensi Tunaswira SS untuk ikut serta dalam lomba “3R” (Resik Rapi Indah) jika berani ikut dinilai, karena ada potensi untuk menang.

Pengelolaan Keuangan dan Sedekah

  • Sedekah (Materi):
    • Tunaswira SS seharusnya sudah harus bersedekah materi.
    • Sedekah harus disisihkan dari omset (pendapatan), bukan dari laba (profit). Pemahaman yang salah adalah menunggu kemampuan atau laba untuk bersedekah, padahal sedekah dari omset tidak melihat sudah mampu atau belum.
    • Bersedekah dalam keterbatasan jauh lebih bernilai dibandingkan bersedekah dalam kelebihan.
    • Disarankan untuk menetapkan persentase minimal (misalnya 0,5% sampai 1%) dari omset yang harus disisihkan setiap bulan.
    • Omset yang dimaksud berasal dari usaha Tunaswira SS, seperti “penjualan siswa” (pembayaran langsung siswa dan beasiswa). Setoran modal atau subsidi tidak termasuk omset untuk sedekah.
    • Sistem penyisihan sedekah ini harus segera dijalankan mulai Agustus.
  • Depresiasi dan Tabungan (Saving):
    • Penting untuk memiliki sistem penyisihan dana untuk depresiasi (misalnya untuk perpanjangan sewa di masa depan, pembelian meja, kursi, proyektor baru jika rusak).
    • Dana ini harus dikeluarkan dari kas sebagai tabungan yang akan digunakan di kemudian hari.
    • Sistem ini memberikan banyak pilihan dan fleksibilitas keuangan bagi Tunaswira SS di masa depan.
    • Diskusi lebih lanjut mengenai depresiasi dan saving akan dilakukan.
  • Tunaswira SS juga seharusnya sudah mampu bersedekah di luar materi, tetapi berbiaya, contohnya mengadakan acara pelatihan di mana modul atau buku dibagikan secara gratis dan biayanya diambil dari sedekah omset.

Pengembangan dan Ekspansi Sekolah

  • Pengembangan Bisnis Sekolah Tunaswira SS:
    • Untuk saat ini, Tunaswira SS belum akan keluar kota (membuka cabang di kota lain).
    • Fokus pengembangan adalah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi:
      • Arahnya ke SMP (Sekolah Menengah Pertama).
      • Cita-citanya sampai SMA (Sekolah Menengah Atas).
    • Ekspansi Horizontal (membuka cabang SD di tempat lain):
      • Ini akan dilakukan minimal setelah Tunaswira SS SD di Jogja sudah “besar”.
      • Ukuran “besar” akan ditentukan bersama, meliputi struktur organisasi, jumlah siswa, dan bisnisnya.
      • Sebagai gambaran, Tunaswira SS dianggap besar jika memiliki satu lulusan minimal, memiliki tempat sendiri dengan bangunan bagus, dan jumlah siswa mencapai ratusan (misalnya, tiga kelas per angkatan dengan 20 siswa per kelas).
    • Setelah SMP kuat, barulah membuka cabang di daerah lain, dengan tujuan agar ketika ada Tunaswira SS di kota lain (misalnya Klaten), sudah ada SMP Tunaswira SS yang terkait.
    • Setelah SMP, barulah membuat SMA.
    • Secara bertahap: SD -> SMP -> SMA (struktur dan kekuatan) -> membuka cabang SD di kota lain.
  • Unit Bisnis dari Potensi Tunaswira SS:
    • Unit-unit bisnis dari optimalisasi potensi Tunaswira SS harus mulai muncul di tahun ketiga.
    • Target pasar bisa sesama institusi pendidikan, sekolah lain, atau siswa.
    • Produk bisa berupa barang atau jasa.
    • Bisnis ini diharapkan tidak hanya menambah pendapatan tetapi juga memperbesar citra branding dan menjaring pasar Tunaswira SS.
    • Contoh: membuat event untuk orang tua (bukan hanya orang tua siswa Tunaswira SS) atau menawarkan produk ke sekolah lain.
  • Pengembangan SDM: Guru-guru seperti Mas Eko (guru kelas dua) harus siap dan bercita-cita untuk menjadi kepala sekolah.
  • Rencana lebih konkret untuk pertumbuhan dan pengembangan akan dirumuskan di tahun ketiga, setelah semua sistem internal Tunaswira SS tertata.

Prinsip dan Nilai Dasar

  • Penekanan pada pentingnya kemauan berpikir (kiadah fikriah) dan kesungguhan serta keseriusan dalam mengimplementasikan (kesempurnaan ikhtiar) segala hasil pemikiran.
  • Hal ini ditekankan sebagai bagian dari nilai-nilai yang diyakini dalam sistem yang dianut, terutama bagi umat Muslim.

Leave a Comment